Kepuasan Terbesar Dalam Hidup itu apa sih ?
Iseng-iseng baca-baca buku tentang motivasi hidup milik pakdhe saya yang kayaknya udah usang banget bahkan sampulnya dedel duel alias robek semua tanpa sampul dan bukunya itu kertasnya kertas buram yang sangat begitu buram. Di dalam buku tersebut membahas tentang apa kepuasan terbesar dalam hidup ini. Kepuasan dalam hidup ini dalam buku itu bukanlah puas menjadi orang kaya. Bahkan dalam buku itu, membahas kalo jadi orang kaya itu belum tentu ada sebuah kepuasan. Mengapa kok gitu ? karena kepuasan itu sendiri bukan dari harta benda yang dimiliki namun kekayaan yang sesungguhnya adalah lebih tepatnya ada pada hati anda. Disitu dijelaskan bagaimana peranan hati yang sesungguhnya. Meskipun buku itu usang dan tidak berjudul, dan yang pasti tulisan “yang” jadi “jang” dalam buku tersebut, tapi motivasi yang ada disitu sungguh tidak dapat saya lupakan. Kita kembali lagi pada kekayaan harta benda tidak berarti tanpa ada yang namanya kepuasan. Di dalam buku itu bahkan sudah diramalkan bagaimana manusia indonesia akan hidup di masa sekarang. Dituliskan bahwa “suatu saat manusia-manusia yang kaya akan merasa miskin dan ingin hartanya lebih dan terus lebih dari yang dimilikinya sekarang, bahkan mereka akan melakukan apa saja untuk bisa mendapatkannya”. Kalo saya pikir-pikir sekarang ini emang gitu keadaannya. Hebat juga buku bisa ngeramal keadaan Indonesia di masa depan.
Hmmm…..saya terus baca-baca artikel inspirasi dan motivasi tersebut dan ternyata contoh-contoh nyatanya pun sangat amat konkret dan nyata. Si penulis buku menuliskan dimana dia mempunyai seorang tetangga yang berprofesi tukang becak dan istrinya adalah seorang pembantu rumah tangga. Ia merasa kagum terhadap keluarga si abang becak ini. Dimana dia dan istri anaknya tidak pernah terlihat ribut entah itu soal makan, bayar spp, bayar tagihan listrik tiap bulan ato ribut soal kekurangan uang, padahal si tukang becak ini bayarannya sehari cuman 1000 rupiah sehari sedangkan istrinya tiap bulan upahnya hanya 3000 rupiah ( ga tahu deh ini tahun berapa ). Tapi dalam kehidupan keluarga-Nya ini bisa dikatakan harmonis. Bahkan saat ditanya si penulis masalah “mengapa keluarganya bisa harmonis padahal kaya nggak, uang banyak juga enggak ? lalu rahasianya apa pak ?” Lalu si tukang becak ini mengatakan “Saya sudah merasa kaya kok, memang bukan kaya dalam bentuk uang tapi saya kaya karena memiliki istri yang baik dan anak yang nurut dengan saya. Kalo masalah uang itu mudah dicari kok”. Lalu si penulis yang bertanya ini pun terheran-heran dengan jawaban si tukang becak ini. “Loh, apakah bapak bisa mendapatkan kepuasan hanya dengan itu saja ? “Kepuasan terbesar dalam hidup ini adalah dapat melakukan suatu hal yang dikatakan oleh orang lain, bahwa kita tidak dapat melakukan hal itu” jawab si tukang becak. Stop sampai disini dulu ceritanya karena panjang banget saya capek nulisnya. Inti dari cerita dan penjelasan panjang lebar itu adalah yang saya kasih warna merah itu.
Kalo saya sih puas sekali dapat menghibur para pengunjung blog ini. Selain itu saya puas bisa menjadi bocah yang mandiri tidak terlalu tergantung sama orang tua
meskipun saya bocah paling dudulz di sekolah
. Nah gimana dengan kepuasan anda sendiri ?? asal jangan kepuasan yang ini aja
.











March 25th, 2008 at 5:45 am
Mas Bayu, thanks utk artikelnya.
Tapi sebenarnya sih kepuasan saya yg terbesar adalah kalau Mas Bayu berkenan menambahkan blog SEOcontest2008 saya bersanding bersama Dwi “Pogung”, Sam, dkk lain dari Indonesia
Boleh dong ya nambah 1 link lagi utk peserta dari Indonesia?
Ini blog saya http://seocontest2008.globalwarmingawareness2007-mes.com/
Terima kasih banyak utk supportnya.
MES
March 25th, 2008 at 5:47 am
wah, sangat memotivasi sekali….
March 25th, 2008 at 7:26 am
kalo buat saya, kepuasan terbesar dalam hidup itu bisa memenuhi semua kebutuhan keluarga tanpa kurang suatu apa pun, sehingga keluarga jadi rukun dan harmonis, trus masih punya uang lebih untuk memenuhi apa yang diinginkan diluar kebutuhan plus amal..
March 25th, 2008 at 4:13 pm
Ehmm,tp bnyk jg keluarga yg cerai berai krn mslh ekonomi.
March 25th, 2008 at 7:06 pm
wah bagus banget motivasinya, sayang sekarang pikiran orang2 dah berubah semua pada ribut masalah duniawi, termasuk saya hehehe
March 25th, 2008 at 7:12 pm
saya puas sudah mengenal bocah walau belum lama ini. tapi ada satu yang masih mengganjal tentang kepuasan saya tentang bocah, yaitu: meskipun satu kota bahkan sebenarnya satu kecamatan, saya sendiri belum pernah ketemu bocah.
March 25th, 2008 at 11:45 pm
manteb, kayak bukan bocah neh
. pokoke puas kalo kaya hati
eh ada tutorial baru lo diblog ku, hasil bertapa 2 hari 2 malem silahkan lihat siapa tau bermanfaat (ttg manajemen link / titip URL lagi ya hehe jadi langganan).
ada saratnya gak supaya dapet link di bayumukti.com/link ??? tukeran yuk, linknya bocah udah ku ADD di LINK TEMAN. matursuwun
March 26th, 2008 at 12:42 am
puas?? puas??? puassssssssss???
March 26th, 2008 at 3:21 am
jalan2 sore… eh… dpt artikel yg bermanfaat
March 26th, 2008 at 4:12 am
Kalo saya kepuasan adl ilmu.Sabda nabi, tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri cina.
March 26th, 2008 at 5:27 am
March 26th, 2008 at 6:31 am
puas ga puas ya puas-puasin aja *maksa*
March 26th, 2008 at 7:01 am
kepuasan hati adalah, kepuasan dimana kita bisa memuaskan diri kita..
March 26th, 2008 at 6:36 pm
kalau saya sih anak-2 gede dan berguna , kemudian bisa mandiri. terus saya bisa jalan-2 he 3 kali , planning panjang…
March 26th, 2008 at 6:56 pm
Mas Bayu,
Terima kasih banyak untuk live linknya di comment #1. Namun tanpa mengurangi rasa hormat saya, kiranya Mas Bayu berkenan menambahkan anchor text “SEOcontest2008″ di kolom IKLAN homepage Mas spt anchor text utk Pogung dkk.
Hari ini blog saya sudah masuk rank 12. Dgn anchor text dari homepage Mas Bayu saya yakin blog tsb akan masuk 10 besar, bisa ikut nemenin Pogung dan BrokenCode. Biarlah Sang Merah Putih puas berkibar di 10 besar Google
March 31st, 2008 at 12:39 am
memang hidup tidak pernah puas
March 31st, 2008 at 12:40 am
kata orang-orang jangan pernah puasss..
March 31st, 2008 at 6:42 pm
Mmmm kepuasan terbesar dalam hidup ? Mmmmm kayaknya kalo liat Bayu tumbuh besar trus jenggotan dan berkumis lebat kayaknya saya puas deh liat fotonya sambil ngakak hihihhi
March 31st, 2008 at 11:56 pm
kepuasanku adalah apa yg gw mau terwujud. dgn realisasi yang membanggakan.
j A O M
April 2nd, 2008 at 10:17 pm
banyak orang puas di bulan romadhon e….. puasa
May 27th, 2008 at 10:49 pm
Puas? what a strong word.. bener kata superbarclays “memang hidup tidak pernah puas..” tapi pernah saya baca sebuah risalah tentang 7 indikator kebahagian dunia, mungkin agak mirip dengan cerita motivasi yang mas Bayu angkat, siapa tahu kita jadi lebih pandai bersyukur atas hidup ini.. Berikut artikelnya, semoga Allah SWT merahmati hidup kita sekalian..
Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia
Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : “Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?” Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng ”hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa ‘sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW.
Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia ”), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).
(Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang, disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana, sedikit diedit oleh Penjaga Kebun Hikmah)