Bencana Lapindo
Lumpur… (kalo’ kue lumpur memang enak dari dulu..)Panas… (kalo’ kopi panas memang nikmat dari dulu..)
Tapi kalo’ lumpur-panas???!!! Arggh!
Entahlah, jika anda melihat sendiri lumpur yang meluap tanpa henti, mungkin anda pun akan sangsi lumpur ini dapat berhenti. Lumpur yang dengan tak sopan menenggelamkan sekitar 5 desa, berhektar hektar sawah dan berpuluh puluh pabrik ini masih terus saja menggeliat, mencari mangsa. (syeeeremmm..) Sampai kapan? sampai kapan? pertanyaan ini terus menggantung di otak masing masing orang yang menyaksikan sendiri, bahkan merasakan pahitnya lumpur panas Lapindo. Pertanyaan yang akan ditertawakan dengan kering oleh para korban. Yah, benar saja. Sudah terlalu letih para korban berandai-andai.. sudah kering airmata buat menangisi cairan abu abu kental yang menjijikkan itu. Semua bisa pasrah.. bahkan saat kedatangan Pak Sby langsung ke lokasi selama 3 hari, warga tanpa antusias menyambut. Bahkan mereka yang ada di pengungsian sekarang tidak peduli, mau presiden kek, pejabat kek, menteri kek, bupati kek, gubernur kek, bahkan tukang becak pun atau kakek kakek sekali pun.. terserah. Yang penting mereka semua bisa membantu meringankan penderitaan, bukan hanya melihat lihat…
“Sampai kapan? Sampai kapan pak Sby dan pak pak lainnya di DPR sana menggantung kami?”
Ha..ha..ha… maybe, itu sedikit suara hati korban di pengungsian sana. Kalau dipikir-pikir sih mirip lagunya Melly Goeslaw yang judulnya “gantung” itu. Lumpur tanpa kepastian.
Ada saatnya lumpur itu membuat tangis dan lara pilu.
Seperti kisah sebuah keluarga yang hendak mengungsi karena rumahnya telah tergenang lumpur lantas tanpa pikir panjang mengungsikan seluruh perabotan ke dalam truk angkut. Dan anda tahu pembaca? Truk itu lenyap tanpa jejak, membawa lari semua barang milik keluarga tersebut.
Seperti juga kisah sebuah keluarga yang telah bertahun tahun menabung, peser demi peser untuk membangun rumahnya. Impian mereka membangun rumah yang indah dan asri, tahu sendiri kan kalimat “Rumahku adalah istanaku” mereka ingin mewujudkan kalimat itu. Dan saat lumpur merampas semuanya, rumah mungil nan indah itu lenyap…
Ada saatnya Lumpur membawa tawa
Jarang tawa terdengar tulus karena lumpur panas Lapindo. Namun, bagi korban yang ikhlas.. lumpur adalah salah satu bagian dari hidup yang harus dijalani. Tawa mungkin terdengar untuk orang orang yang memang diuntungkan atas bocornya Lapindo. Siapa? yah sebut saja kontraktor kontraktor yang bertugas menanggul Lapindo, hei… mereka dibayar mahal asal kalian tahu.
Atau seorang ibu yang benar benar miskin, hidupnya mencari kangkung dan ikan di sungai. Saat lapindo menenggelamkan gubuknya, ia salah satu dari sekian persen orang yang mendapat tunjangan hidup, yang baginya di atas penghasilannya. Lantas ia tertawa bahagia, menjemput kedua anaknya yang putus sekolah di panti asuhan.
Atau yang dimaksud kali ini “tawa-tanpa-dosa”???
Kalau anda datang ke pengungsian di pasar baru Porong, anda dapat bertemu bocah bocah kecil yang dekil tertawa tawa, bermain dengan sebayanya, bercanda.. dan berlari-larian. Mereka seakan akan tidak merasakan panas terik matahari yang membakar kulit mereka, atau nasib mereka yang sungguh malang. Mereka seakan akan tidak menyadari bahwa sekarang mereka tidur dalam satu ruang dengan beberapa keluarga. Semuanya diajarkan berbagi disini.. sampai hal yang terkecil. Anak anak itu tertawa tanpa dosa.. menikmati semuanya dengan teman senasib, tanpa beban.
Ada kalanya Lumpur membawa miris
Sudah banyak spanduk spanduk yang membuat hati miris dipasang di sepanjang jalan raya Porong. Spanduk spanduk itu seakan menjerit marah, protes, kesal, sedih dan pilu. Seakan tidak cukup demo yang tanpa putus dilancarkan, surat surat permohonan, petisi, tuntutan korban.. masih ditambah dengan spanduk yang bertulis “PAK SBY-JK KAMI BUKAN IKAN, SELAMATKAN NYAWA KAMI” atau yang bernada tekad “SAMPAI MATI KAMI TIDAK AKAN MENJUAL TANAH NENEK MOYANG KAMI PADA LAPINDO” atau juga yang bernada sindiran“LUMPUR MASUK RUMAH KAMI MUDAH, MENGAPA GANTI RUGI DIPERSUSAH?” atau yang bernada tegas “BAYAR CASH AND CARRY BARU TANGGUL DESA KAMI” atau beberapa spanduk lagi yang berisi kata kata kotor dan mengumpat saking marahnya korban kepada pihak Lapindo yang tidak etis saya tuliskan disini.
Anda tahu pembaca bagaimana keadaan lingkungan sekitar semburan yang belum tergenang lumpur?
Ha..ha..ha.. miris sekali! Desa Siring dan Perumtas telah menjadi desa mati. Tanah tanah retak bewarna abu abu, pohon pohon meranggas, kering.. tanpa daun… rumah rumah telah tak berbentuk, atapnya, pintu, kaca, dan kayu kayu yang masih bisa dimanfaatkan telah lenyap diambil pemiliknya atau bahkan dicuri, tanpa listrik, gelap… penuh debu, tanpa manusia bahkan hewan pun sepertinya enggan tidur disana. Kadang kalau tanggul jebol atau lumpur meluap sehabis hujan, air lumpur akan menggenang, menimbulkan kubangan kebangan coklat dan lama kelamaan mengental kehijau-hijauan di permukiman tersebut. Ada yang lebih parah tuan?
Ada kalanya Lumpur membuat frustasi bahkan gila
Mulai dari stres, depresi, frustasi bahkan gila… semua pernah dialami para korban. Bagaimana tidak stres kalo’ setiap hari mencium bau menyengat dari luapan lumpur panas? Bagaimana sopir sopir kendaraan tidak depresi? kalo’ setiap hari harus rela mengemudi layaknya bekicot saat berada di wilayah Porong? Bagaimana tidak frustasi? kalo’ mata pencaharian turun drastis gara-gara lumpur bahkan dipecat secara otomatis karena lapangan pekerjaan itu tenggelam oleh lumpur Lapindo. Bagaimana tidak gila? kalo faktor faktor stres, depresi, dan frustasi di atas dikombinasikan menjadi satu… entah sudah berapa pasien di RSJ yang gangguan kejiwaan karena lumpur panas, ini faktanya.
Tetapi well, setidaknya.. semua ini adalah salah satu fase yang menjadikan kita lebih dewasa dalam menyingkapi hidup. Semua ada hikmahnya di dunia ini, right? Yeah.. percaya sajalah.. entah forever atau tidak.. entah bawa duka, suka, miris, dan kegilaan… lumpur juga tentunya membawa hikmah, trust me. :P
By Shmily
boeat : Seluruh warga Indonesia yang telah merasa jenuh menonton berulang kali bencana terlama nongol di tv dan media massa lainnya.. See? bantu korban, pun hanya dengan uluran do’a… thanks b4













